Skip to main content
Tim Mbolang Bareng 1996 Taklukkan Puncak Sarah Klopo, Tumbuhkan Semangat Pantang Menyerah dan Jiwa Wirausaha
14
Jun 2026
Tim Mbolang Bareng 1996 Taklukkan Puncak Sarah Klopo, Tumbuhkan Semangat Pantang Menyerah dan Jiwa Wirausaha

Tim Mbolang Bareng 1996 Taklukkan Puncak Sarah Klopo, Tumbuhkan Semangat Pantang Menyerah dan Jiwa Wirausaha

14 Jun 2026 21:30
21:30 WIB
Selesai

Tentang Event

Malang, 14 Juni 2026 – Semangat petualangan, kebersamaan, dan pembelajaran karakter kembali ditunjukkan oleh komunitas Mbolang Bareng 1996 melalui kegiatan pendakian menuju Puncak Sarah Klopo pada Minggu (14/6/2026). Kegiatan yang diikuti berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen, hingga pelaku usaha ini menjadi sarana mempererat persaudaraan sekaligus mengasah ketahanan fisik, mental, dan jiwa kepemimpinan. Puncak Sarah Klopo merupakan salah satu punggungan Gunung Penanggungan yang berada di kawasan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Dengan ketinggian sekitar 1.235 mdpl, lokasi ini dikenal sebagai spot pendakian favorit karena memiliki hamparan sabana yang luas dan panorama pegunungan yang memukau. Dari puncak, pendaki dapat menikmati kemegahan Gunung Penanggungan dari jarak dekat, bentangan Gunung Arjuno-Welirang di sisi barat, Gunung Bekel, serta panorama wilayah Trawas dan Pacet yang terlihat jelas saat cuaca cerah. Keindahan lanskap tersebut menjadikan Sarah Klopo sebagai salah satu lokasi terbaik untuk menikmati sunset maupun lautan lampu kota pada malam hari. Jalur yang dipilih oleh rombongan kali ini adalah via Kedungudi, sebuah jalur pendakian yang dikenal cukup menantang dengan karakter tanjakan yang relatif panjang, jalur tanah berbatu, serta beberapa titik yang memerlukan konsentrasi dan kehati-hatian ekstra. Pendakian dipimpin oleh Denny, yang akrab disapa Om Ined, dengan dukungan pengawalan dari Om Andy dan Om Agung yang memastikan seluruh peserta dapat menjalani perjalanan dengan aman dan nyaman. Salah satu peserta yang menjadi perhatian adalah Nathan, siswa kelas 5 SD berusia 10 tahun yang menjadi peserta termuda dalam rombongan. Meski usianya masih belia, Nathan mampu menyelesaikan pendakian hingga puncak bersama para peserta dewasa lainnya. Perjalanan dimulai sekitar pukul 12.15 WIB dari basecamp Kedungudi. Dengan semangat kebersamaan dan saling mendukung, para peserta menapaki jalur pendakian yang terus menanjak hingga akhirnya berhasil mencapai puncak setelah menempuh perjalanan sekitar 3,5 hingga 4 jam. Setibanya di puncak, para peserta menikmati suasana alam, beristirahat, melakukan dokumentasi bersama, sekaligus mengabadikan momen kebersamaan yang penuh makna. Secara umum, pendakian menuju Sarah Klopo termasuk kategori pendakian menengah yang cocok bagi pendaki pemula maupun berpengalaman. Selain menyajikan tantangan fisik, jalur ini juga memberikan pengalaman menikmati keindahan alam dan suasana pedesaan yang masih alami. Tak heran jika Sarah Klopo mulai menjadi salah satu tujuan favorit bagi komunitas pendaki di wilayah Malang dan sekitarnya. Ketua tim pendakian, Om Ined, menyampaikan rasa bangga atas kekompakan dan semangat seluruh peserta selama kegiatan berlangsung. "Pendakian bukan sekadar mencapai puncak, tetapi bagaimana kita belajar menghargai proses, saling menjaga, dan pulang bersama dengan selamat. Saya bangga karena seluruh peserta, termasuk pendaki pemula dan peserta termuda, mampu menunjukkan semangat pantang menyerah hingga kembali ke basecamp dalam kondisi sehat. Kebersamaan seperti inilah yang menjadi ruh dari Mbolang Bareng 1996," ujar Om Ined. Menurutnya, kegiatan alam terbuka merupakan media pembelajaran yang efektif untuk membangun karakter, keberanian menghadapi tantangan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun sesama anggota tim. Keberhasilan kegiatan ini juga tidak lepas dari peran Pak Arief yang bertindak sebagai Koordinator Dokumentasi. Dengan pembawaannya yang riang, komunikatif, dan penuh semangat, Pak Arief senantiasa membantu menjaga suasana perjalanan tetap menyenangkan, baik saat mendaki menuju puncak maupun ketika turun kembali ke basecamp. Selain berprofesi sebagai guru sekolah dasar, Pak Arief juga dikenal sebagai pelaku usaha kuliner yang tangguh dan ulet. Pengalamannya sebagai pendidik sekaligus wirausahawan membuatnya mampu menjadi teladan dalam hal ketekunan, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi menghadapi berbagai tantangan. "Di gunung maupun dalam dunia usaha, prinsipnya hampir sama. Kita harus sabar, mampu beradaptasi, dan terus bergerak maju meskipun jalannya menanjak. Yang terpenting adalah tetap menjaga semangat dan kebersamaan," ungkap Pak Arief. Bagi para mahasiswa yang turut serta, pendakian ini menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga. Sabila, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (FEB UNISMA), mengaku memperoleh banyak pelajaran selama perjalanan. "Pendakian ini mengajarkan bahwa setiap tujuan membutuhkan proses. Saat lelah di tengah perjalanan, kami saling menyemangati hingga akhirnya bisa sampai di puncak. Pengalaman seperti ini membentuk mental yang lebih kuat dan tidak mudah menyerah," tutur Sabila. Hal senada disampaikan oleh Zulfia, mahasiswi FEB UNISMA lainnya. "Di gunung tidak ada jalan pintas. Kita harus sabar, konsisten, dan terus melangkah. Saya belajar bahwa keberhasilan sering kali bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mampu bertahan dan menyelesaikan perjalanan sampai akhir," katanya. Menurut dosen FEB UNISMA Malang, Eris Dianawati, kegiatan pendakian memiliki keterkaitan yang erat dengan pembelajaran dalam mata kuliah Kewirausahaan Lanjutan (Advance Entrepreneur). "Dalam kewirausahaan, seseorang harus memiliki keberanian mengambil tantangan, kemampuan membaca risiko, ketahanan menghadapi ketidakpastian, serta konsistensi mencapai tujuan. Semua nilai tersebut hadir dalam pendakian gunung. Saat mendaki, peserta belajar tentang perencanaan, kerja sama tim, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan pantang menyerah. Karakter-karakter inilah yang menjadi fondasi penting bagi seorang wirausahawan," jelas Eris Dianawati. Beliau menambahkan bahwa karakter entrepreneur tidak dibangun hanya melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang menguji daya tahan mental dan kemampuan beradaptasi di lapangan. Setelah menikmati suasana puncak dan melakukan dokumentasi bersama, rombongan kemudian turun kembali menuju basecamp. Kegiatan pendakian berakhir sekitar pukul 20.30–21.00 WIB ketika seluruh peserta tiba dengan selamat di basecamp Kedungudi. Sesampainya di bawah, para peserta menikmati hidangan hangat di warung sekitar basecamp sambil beristirahat, berbagi cerita pengalaman selama perjalanan, dan melepas lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras energi. Rombongan kemudian kembali menuju Kota Malang menggunakan dua unit kendaraan. Perjalanan berlangsung lancar dan seluruh peserta tiba kembali di rumah masing-masing dalam kondisi sehat, bugar, dan penuh semangat sebelum pukul 01.00 WIB dini hari. Pendakian Puncak Sarah Klopo tahun ini bukan sekadar perjalanan menaklukkan ketinggian 1.235 mdpl, tetapi juga menjadi ruang belajar tentang kepemimpinan, kolaborasi, ketangguhan mental, dan semangat kewirausahaan. Bu Guru Siska sempat merekam dari perangkatnya bahwa pendakian hari itu telah mencapai 20.434 langkah. Dari peserta termuda hingga para pendaki senior, seluruh anggota Mbolang Bareng 1996 membuktikan bahwa setiap puncak dapat dicapai melalui kerja sama, disiplin, dan tekad yang kuat. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan karakter yang dibutuhkan seorang wirausahawan: berani menghadapi tantangan, mampu mengelola risiko, kreatif mencari solusi, serta tetap istiqomah dalam mencapai tujuan. Dengan semangat "Naik Bersama, Turun Bersama, Pulang Bersama", Mbolang Bareng 1996 kembali menegaskan bahwa perjalanan terbaik bukan hanya tentang mencapai puncak, melainkan tentang bagaimana setiap anggota bertumbuh selama proses menuju puncak tersebut. @dyn_bn